Minggu, 07 Agustus 2011

Surat Kecil untuk Tuhan


Sebuah film yang sarat makna, disampaikan dengan tulus dan sepenuh hati. Seluruh pemain bermain dengan baik. Walaupun pada beberapa bagian yang intens, beberapa pemain, saya rasa, masih perlu pendalaman materi, akan tetapi masih dalam koridornya.

Pemeran Gita Sesa Wanda Cantika, sungguh luar biasa membawakan perannya. Setiap lika-liku cerita berhasil dilewatinya dengan mulus. Saat-saat up maupun down diisi dengan emosi yang pas dan penampilan yang memukau.

Tidak melupakan peran Alex Komang, sebagai aktor senior, memperjelas karakter dari film ini.

Sisi cerita memiliki sisi natural yang sangat baik, mengingat film ini dilandasi oleh kisah nyata. Penyampaiannya pun sangat baik. Secara general, mood film ini adalah tenang, sepi, dan flow yang lambat. Tetapi, sepertinya ramuan itu yang pas untuk cerita seperti ini.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmatinya. Pujian saya yang tertinggi untuk film ini (Keren!!). Dari film ini, saya menjadi ingat kembali akan arti penting film sebagai sumber inspirasi manusia.

Inspire people first, then you can change the world

Kamis, 04 Maret 2010

Crazy Heart


Good movies.. Um, great movies, i think.. With a lot of good country songs.. And very neat performance from the actors and actresses, especially Jeff Bridges who play as Bad Blake; An old country musician who famous at his own time.

The story itself is very natural. A musician who travel from one city to another city, from one bar to another bar. Facing his age which is not young anymore. Feeling got nothing, than become an alcoholic and heavy smoker. Heading the climax, the story becomes more interisting when more trouble comes to visit. Finally, it ends, naturally too.

For the very natural plot, good performance of the cast, and the very entertaining country songs, I rate this film as "Keren".

Minggu, 03 Januari 2010

Sang Pemimpi

Kalo mau diacungin jempol, mungkin butuh banyak banget jempol.. Sang Pemimpi.. Gokil!

Yang pertama, soal sinematografinya.. Cukup manis.. Terutama, saya melihat ada nuansa warna berbeda yang sengaja ditampilkan untuk setiap lokasi atau waktu yang berbeda. Contohnya, ketika bercerita mengenai masa kecil ikal, nuansanya banyak ke hijau dan sedikit kurang berwarna. Sementara ketika masa remaja tiga sekawan (ikal, arai, dan jimbron) nuansa warnanya lebih cerah dan warna-warnanya lebih catchy. Sebagai kritik, menurut saya, sebaiknya pada adegan-adegan dramatis seharusnya lebih banyak dalam mengeksplorasi ekspresi, salah satunya bisa dengan memperbanyak shoot close up. Mungkin akan agak terkesan klise, tetapi penonton tetap butuh itu. Sekali lagi, itu menurut pendapat saya pribadi.

Yang kedua, mengenai pemain. Satu yg ingin saya angkat adalah mengenai permainan Rieke Dyah Pitaloka. Saya selalu terbawa suasananya ketika ia ada di dalam frame. Memang, hampir setiap adegannya selalu sedih sekali. Tetapi, menurut saya, dua kata kuncinya, yaitu sikap keibuan dan ketulusan. Dua aspek yang ditampilkan tersebut menjadi dorongan kuat untuk menyeret penonton, termasuk saya, ke dalam rasa yang ingin dibangun. Selain itu, mengenai Mathias Muchus. Sejak awal film ia sudah dieksplor cukup banyak. Agak menarik, mengingat Mathias Muchus adalah suami dari Mira Lesmana. Tetapi, menurut saya, pada kenyataannya, memang ada potensi besar pada Mathias Muchus yg akan keluar dengan baik jika penempatannya benar. Dan pada film ini, yang saya lihat adalah penampilan terbaik Mathias Muchus dari film-filmnya yang pernah saya tonton. Selain dua aktor tersebut, pemain-pemain lainnya juga bermain dengan baik dan cukup alamiah. Riri Riza membuktikan kata-katanya, bahwa filmnya berbasis pada pengembangan karakter. Terlihat sekali, dalam film Sang Pemimpi ini, semua pemain dieksplor habis permainannya. Yang pada akhirnya, untuk menunjukkan yang terbaik kepada penonton.

Yang ketiga, mengenai plot. Plot Sang Pemimpi cukup unik, tidak monton, segar, tidak klise, dan, yang paling penting, menunjukkan sisi originalitasnya. Sudah seharusnya, movie maker, seperti layaknya profesi lainnya, terus berusaha memperbaiki diri dan menunjukkan kematangan karya yang lebih daripada karya sebelumnya. Seperti pada, Sang Pemimpi ini, menurut saya, sudah berhasil untuk bisa lebih baik daripada Laskar Pelangi, bukan hanya dari segi plot ini saja, tetapi juga pada hampir semua sisi filmnya.

Yang terakhir, mengenai cerita atau amanat yang ingin disampaikan. Sejak dahulu kala, tukang-tukang cerita yang baik memang selalu berusaha untuk menyampaikan pesan positif sambil berupaya menginspirasi audiensnya. Pada film ini, Sang Pemimpi sudah berhasil memenuhi dua kriteria tersebut. Pesan positifnya antara lain : rajin belajar, berbakti pada orang tua, disiplin, dan jangan pantang menyerah. Selain itu, juga telah berhasil menginspirasi penontonnya. Seperti saya, ketika keluar dari gedung bioskop, saya merasakan semangat hidup saya seperti bertambah berkali-kali lipat. Yang pasti, saya akan terus bermimpi, seperti Sang Pemimpi.

"..dan Tuhan akan memeluk mimpi-mipi itu."


Amin..

Minggu, 20 Desember 2009

Everybody's Got To Learn Sometimes

The first review title that's not the title of the film.. Yeah, it's a song title from ost "Eternal Sunshine of the Spotless Mind". I think, i've seen this movie before now, but it's still great. I laugh when the story is sad, and I almost cry when the story is... very sad. Haha. I admire the story maker and also everyone who makes the story comes true (to be a film).. How could a person makes such a wonderful story ? Deep concept. Beautiful explanation. Maybe life it is.

And I also admire the actor and the actress. Like they can fool me who watch the film and beliefing that it's actually happened.. They are so natural, especially Kirsten Dunst and Kate Winslet. At first, I thought it's a mistake to choose Kate Winslet to be Clementine. She (Kate Winslet) has heavy voice, and I thought Clementine is just a cute girl who like to play with things, so I guess those two things won't be match. But I was wrong. Clementine's character is much more complicated than that and she (Kate Winslett) has the capability to do that.

At last, eventhough I think I don't have to, because I love this movie very much, but I have to give a mark. So, off course, this film is Gokil!

No more words.. Gotta go!

Sabtu, 19 Desember 2009

The Good, The Bad, and The Ugly

Agak membosankan sebenarnya waktu di awal menonton, mungkin karena jadulnya itu.. Tapi begitu mulai diperhatiin lagi, dicari-cari apa bagusnya, ternyata banyak juga.

Pertama, soal bagaimana dia membangun tense. Dengan sorotan-sorotan close up nya dan musik yang mendenging, dapat dipastikan penonton akan tahu kalau suasananya sedang genting. Adegan favorit saya, ketika si jahat (The Bad) menemui mangsanya untuk dimintai informasi. Pas adegan itu, kerasa banget nuansa mencekamnya sebuah duel. Mata saling bertatapan tidak lepas, karena takut tiba-tiba musuh nge-dor. Berbicara dan bersikap dijaga supaya tidak menjadi terpengaruh, yang berarti terpengaruh pula secara mental. Tetapi tetap diusahakan terlihat luwes, agar musuh menjadi lengah.

Jalinan ceritanya pun cukup baik di sini, tidak monoton. Mungkin karena berpijak pada pengembangan karakter, jadi adegan-adegannya pun tercipta secara natural. Pilihan setting, khususnya waktu, cukup menarik di sini, yaitu ketika civil war di amrik. Mungkin kalo di indo, kyk jaman-jamannya revolusi fisik. Tetapi meskipun sebenarnya sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut, tetapi film ini berhasil untuk tetap berpegang erat pada para tokoh untuk menggerakkan cerita. Sampai-sampai taglinenya berbunyi, For three man the civil war wasn't hell. It was practice.

Terakhir, yang paling penting dari film ini, tentu saja mengenai penciptaan karakter, terutama tiga yang utama itu, mulai dari perkenalannya, permasalahannya, sampai dengan konflik-konflik yang terus terjadi antara ketiganya. Walaupun sebenarnya sangat klasik, "The Good" (protagonis), "The Bad" (antagonis), dan "The Ugly" (orang ketiga), tetapi pembuat film tetap dapat membuatnya terlihat dan terdengar menarik. Tiga bintang untuk film ini.. Keren!

Sabtu, 12 Desember 2009

Hide and Seek

Bintang 2 buat film ini. Bagus! Terutama bintang-bintangnya di sini bermain dengan cukup apik. Ada robert de niro, dakota fanning, serta bintang-bintang lainnya. Robert de niro bermain dengan natural, seperti biasanya. Serta dakota fanning,, entah knp melihat dakota fanning itu seperti melihat anak yang melatih dirinya sendiri untuk bermain film sejak dini. Agak terlalu dewasa, mungkin, buat seumurannya. Yang melegakan, di sini ia bisa tertawa kecil seperti layaknya anak kecil seumurannya. Baguslah pokoknya.

Ceritanya juga lumayan mengagetkan. Agak di luar dugaan, maksudnya. Walaupun, sepertinya, digarap agak terlalu terburu-buru. Terutama ketika menyibak tabir tentang cerita sebenarnya. Kesannya seperti menggali kuburan, pelan-pelan, tetapi ketika menutupnya langsung bruk aja ditumplekin tanahnya. (Kan gak sopan ?)

Paragraf ketiga ini, saya mau membahas hal lain dari film ini. Coba dengar lagu ini. Serasa pernah dengar ? Bagaimana dengan lagu ini ? Hal ini sedikit-banyak mengganggu konsentrasi saya sejak awal menonton. Lagu pertama berjudul Hide & Seek (Emily's Theme) (2005) menjadi soundtrack utama untuk film ini, sedangkan lagu kedua berjudul Tak ada Yang Abadi (2008). Entah, lagu kedua terinspirasi oleh lagu pertama, atau kedua lagu memiliki referensi yang sama. Yang jelas, menurut saya, kedua lagu tersebut sangat mirip.

Surrogates

Asik.. Asik bgt kalo gw bilang nh pelem. Tapi kykny kurang kdengeran, ya? Kurang promosi mungkin, ya?

Pertama, dari segi cerita, ni film cukup unik. Sama sih kyk matrix, atau i-robot, atu film-film lainnya yg menceritakan ttg dominasi robot di muka bumi. Tapi, tetep beda. Idenya ini cukup fresh kalo gw bilang. Plus, seperti biasanya kalo gw nonton film, gw suka sama film-film yg kalo dipikirin lagi, kyk ada pesan-pesan tersirat yg bisa diambil. Ide mengenai surrogates ini, smacam menyuruh manusia utk kluar, menghirup udara segar, dan menikmati hangatnya siraman sinar mentari. Pesan trsiratnya, bahwasanya pencapaian terbesar itu bukan pada hasil, tapi pada rasa. Bener ga, sih?


Yg kedua, ni film seru banget! Asik lah adegan action, kejar-kejaran, ledakan-ledakannya. Bagus untuk mengimbangi ide cerita yg sebenrny serius tadi. Soal bruce willis nya,, ya sama lah, kyk di die hard.. Mungkin ultimate film nya dia nanti, harus ada adegan dia mati kali, ya? Coba, brp bnyk org yg kepengen dia mati? Angkat tangan, ayo! Haha, enggak, becanda deh om willis..

Sip, sgitu aja review-nya.. Buat yg blm mnonton, silahkan mendonlod. :D Saya beri empat bintang untuk film ini. Gokil!